MAKALAH
FISIKA INTI
![]() |
Disusun sebagai salah satu TUGAS
FINAL
semester Fisika inti.
Oleh
:
Erni
R Manara (20600111022)
JURUSAN
PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2014

Segala
puji atas kebesaran Sang Khalik yang telah menciptakan alam semesta dalam suatu
keteraturan hingga dari lisan terpetik
berjuta rasa syukur kehadirat ALLAH SWT. Karena atas limpahan Rahmat dan
Karunia-Nyalah sehingga kami diberikan kesempatan dan kesehatan untuk dapat
menyelesaikan makalah Fisika inti ini dengan judul “RADIOAKTIF” yang merupakan
tugas kami dalam mata kuliah Fisika Terapan di semester lima ini. Shalawat dan
salam senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, yang diutus ke
permukaan bumi ini menuntun manusia dari lembah kebiadaban menuju ke puncak
peradaban seperti sekarang ini.
Kami
menyadari sepenuhnya, dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari tantangan
dan hambatan. Namun berkat usaha dan motivasi dari pihak-pihak langsung maupun
tidak langsung yang memperlancar jalannya penyusunan makalah ini sehingga
makalah ini dapat kami susun seperti sekarang ini. Olehnya itu, secara mendalam
kami ucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan motivasi yang diberikan
sehingga Penyusun dapat menyelesaikan makalah ini.
Akhirnya dengan segala kerendahan
hati kami menyadari bahwa hanya kepada ALLAH SWT jugalah kita menyerahkan
segalanya. Semoga makalah ini dapat menjadi referensi dan tambahan materi
pembelajaran bagi kita semua, Aamiin Yaa Robb.
Makassar, januari 2014
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Radioaktivitas pertama kali
ditemukan pada tahun 1896 oleh ilmuwan Perancis Henri Becquerel ketika sedang
bekerja dengan material fosforen. Material semacam
ini akan berpendar di tempat gelap setelah sebelumnya mendapat paparan cahaya,
dan dia berfikir pendaran yang dihasilkan tabung katoda oleh sinar-X mungkin berhubungan
dengan fosforesensi. Karenanya ia membungkus sebuah pelat foto dengan kertas
hitam dan menempatkan beragam material fosforen diatasnya. Kesemuanya tidak
menunjukkan hasil sampai ketika ia menggunakan garam uranium. Terjadi bintik hitam pekat pada pelat foto ketika ia menggunakan
garam uranium tesebut.
Pada tahun 1895, W.C. Rontgen menemukan bahwa tabung sinar
katode mengahasilkan suatu radiasi berdaya tembus tinggi yang dapat
menghitamkan film potret, walupun film tersebut terbungkus kertas hitam. Karena
belum mengenal hakekatnya, sinar ini dinamai sinar X. Ternyata sinar X adalah
suatu radiasi elektromagnetik yang timbul karena benturan berkecepatan tinggi
(yaitu sinar katode dengan suatu materi (anode). Sekarang sinar X disebut juga
sinar rontgen dan digunakan untuk rongent yaitu untuk mengetahui keadaan organ
tubuh bagian dalam.
Zat radioaktif yang pertama ditemukan
adalah uranium. Pada tahun 1898, Marie Curie bersama-sama dengan suaminya
Pierre Curie menemukan dua unsur lain dari batuan uranium yang jauh lebih aktif
dari uranium. Kedua unsur itu mereka namakan masing-masing polonium
(berdasarkan nama Polonia, negara asal dari Marie Curie), dan radium (berasal
dari kata Latin radiare yang berarti bersinar).
Ternyata, banyak unsur yang secara alami
bersifat radioaktif. Semua isotop yang bernomor atom diatas 83 bersifat radioaktif.
Unsur yang bernomor atom 83 atau kurang mempunyai isotop yang stabil kecuali
teknesium dan promesium. Isotop yang bersifat radioaktif disebut isotop
radioaktif atau radioi isotop, sedangkan isotop yang tidak radiaktif disebut
isotop stabil. Dewasa ini, radioisotop dapat juga dibuat dari isotop stabil.
Jadi disamping radioisotop alami juga ada radioisotop buatan.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Apa yang dimaksud dengan radioaktivitas?
2.
Apa yang dimaksud dengan peluruhan?
3.
Apa yang dimaksud dengan reaksi nuklir?
4. Apa yang dimaksud dengan reaksi inti?
C.
Tujuan
Tujuan pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pengertian radioaktivitas.
2. Mengetahui pengertian peluruhan.
3. Mengetahui pengertian reaksi nuklir.
4. Mengetahui pengertian reaksi inti.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Radioaktivitas
Radioactivity
is A term describing a phenomenon whereby certain materials are subject to a
form of decay brought about by the emission of high-energy particles or
radiation. Forms of particles or energy include alpha particles (positively
charged helium nuclei); beta particles (either electrons or subatomic particles
called positrons); or gamma rays, which occupy the highest energy level in the
electromagnetic spectrum.
(Radioaktivitas adalah Sebuah istilah yang menggambarkan fenomena ketika
bahan-bahan tertentu tunduk pada bentuk pembusukan disebabkan oleh emisi
partikel berenergi tinggi atau radiasi. Bentuk partikel atau energi meliputi
partikel alfa (inti helium bermuatan positif); partikel beta (elektron atau
partikel subatomik yang disebut positron), atau sinar gamma, yang menempati
tingkat energi tertinggi dalam spektrum elektromagnetik)
Radioaktivitas
pertama kali ditemukan pada tahun 1896 oleh ilmuwan Perancis
Henri Becquerel ketika
sedang bekerja dengan material fosforen. Material semacam ini akan berpendar
di tempat gelap setelah sebelumnya mendapat paparan cahaya, dan dia berfikir
pendaran yang dihasilkan tabung katode oleh sinar-X
mungkin berhubungan dengan fosforesensi. Karenanya ia membungkus sebuah pelat
foto dengan kertas hitam dan menempatkan beragam material fosforen diatasnya.
Kesemuanya tidak menunjukkan hasil sampai ketika ia menggunakan garam uranium.
Terjadi bintik hitam pekat pada pelat foto ketika ia menggunakan garam uranium
tesebut.
Tetapi
kemudian menjadi jelas bahwa bintik hitam pada pelat bukan terjadi karena
peristiwa fosforesensi, pada saat percobaan, material dijaga pada tempat yang
gelap. Juga, garam uranium nonfosforen dan bahkan uranium metal dapat juga
menimbulkan efek bintik hitam pada pelat.
Gambar
2.1 : daya tembus sinar alfa, beta dan gamma
Partikel
Alfa tidak mampu menembus selembar kertas, partikel beta tidak mampu menembus
pelat alumunium. Untuk menghentikan gamma diperlukan lapisan metal tebal, namun
karena penyerapannya fungsi eksponensial akan ada sedikit bagian yang mungkin
menembus pelat metal.
Sinar yang dipancarkan oleh unsur
radioaktif memiliki sifat-sifat:
1.
dapat menembus lempeng logam tipis;
2.
dapat menghitamkan pelat film;
3.
dalam medan magnet terurai menjadi tiga berkas sinar.
Pada
tahun 1898 Paul Ulrich Villard menemukan sinar radioaktif yang tidak
dipengaruhi oleh medan magnet yaitu sinar gamma (
). Setahun
kemudian Ernest Rutherford berhasil menemukan dua sinar radioaktif yang lain,
yaitu sinar alfa ( α) dan sinar beta (β).

1.
Sinar Alfa
Sinar
alfa merupakan inti helium (He) dan diberi lambang atau
sinar memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
a.
bermuatan positif sehingga dalam medan listrik dibelokkan ke kutub negatif;
b.
daya tembusnya kecil ( < β < );
c.
daya ionisasi besar ( > β> ).
2.
Sinar Beta (β)
Sinar
beta merupakan pancaran elektron dengan kecepatan tinggi dan diberi lambang
(β)
Sinar
beta memiliki sifat-sifat:
a.
bermuatan negatif sehingga dalam medan listrik dibelokkan ke kutub positif;
b.
daya tembusnya lebih besar dari α
c.
daya ionisasinya lebih kecil dari α
3.
Sinar Gamma
Sinar
gamma merupakan gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang yang pendek
Sinar
γ memiliki sifat-sifat:
1.
tidak bermuatan listrik, sehingga
tidak dipengaruhi medan listrik;
2.
daya tembusnya lebih besar dari α
dan β ;
3.
daya ionisasi lebih kecil dari α dan
β .
Setelah
penemuan keradioaktifan ini, terbukti bahwa dengan reaksi inti suatu unsur
dapat berubah menjadi unsur lain. Bila unsur-unsur radioaktif memancarkan sinar
α atau β maka akan berubah menjadi unsur lain.
Radioaktivitas adalah sifat suatu
unsur yang dapat memancarkan radiasi (pancaran sinar) secara spontan. Tergolong
ke dalam zat radioaktif, unsur tersebut biasanya bersifat labil, berarti
tergolong zat radioaktif adalah isotopnya, karena untuk mencapai kestabilan
salah satunya harus melakukan peluruhan. Peluruhan zat radioaktif untuk
menghasilkan unsur yang lebih stabil sambil memancarkan partikel seperti,
partikel alpha α (sama dengan inti 4He), partikel beta (β), dan
partikel gamma (γ).
Radioaktif atau radiasi yang berasal dari bahan
radioaktif adalah satu bentuk energi yang dipancarkan oleh atom atau molekul
yang disebarkan melalui ruang atau materi sebagai partikel / partikel ataupun
gelombang elektromagnetik. Radioaktivitas (juga disebut radioaktif juga
merupakan fenomena alami atau buatan, dimana ditimbulkan oleh zat tertentu atau
bahan kimia. Ada dua radio aktif yang ada pada umumnya yaitu Radioaktivitas
spontan atau alami: Hal ini diwujudkan dalam unsur-unsur radioaktif dan isotop
ditemukan di alam dan mencemari lingkungan seperti uranium dan thorium dalam
lingkungan (tanah, pohon, air dan udara) dan Radioaktivitas buatan atau
induksi: radioaktif ini merupakan salah satu yang disebabkan oleh transformasi
nuklir buatan seperti Technitium-99m yang digunakan dalam medis dan Iridium-192
yang digunakan dalam industri termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir.
Radioaktivitas digunakan untuk memperoleh energi
nuklir, dan juga digunakan dalam pengobatan (radioterapi dan radiologi) dan
aplikasi industri (misalnya mengukur ketebalan dan ukuran kerapatan).
Definisi
pencemaran zat radioaktif adalah
suatu pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh debu radioaktif akibat
terjadinya ledakan reaktor-reaktor atom serta bom atom. Limbah radioaktif
adalah zat radioaktif dan bahan serta peralatan yang telah terkena zat
radioaktif atau menjadi radioaktif karena pengoperasian instalasi nuklir yang
tidak dapat digunakan lagi. yang paling berbahaya dari pencemaran
radioaktif seperti nuklir adalah radiasi sinar alpha, beta dan gamma yang
sangat membahayakan makhluk hidup di sekitarnya. Selain itu partikel-partikel
neutron yang dihasilkan juga berbahaya. Zat radioaktif pencemar lingkungan yang
biasa ditemukan adalah 90SR penyebab kanker tulang dan 131J.
Efek
serta Akibat yang ditimbulkan oleh radiasi zat radioaktif pada umat manusia
seperti berikut di bawah ini : Pusing-pusing, Nafsu makan berkurang atau
hilang, Terjadi diare, Badan panas atau demam, Berat badan turun, Kanker darah
atau leukimia, Meningkatnya denyut jantung atau nadi.
Berbagai satuan digunakan untuk
menyatakan intensitas atau jumlah radiasi bergantung pada jenis yang diukur.
1.
Curie(Ci)
dan Becquerrel (Bq)
Curie dan Bequerrel adalah satuan
yang dinyatakan untuk menyatakan keaktifan yakni jumlah disintegrasi
(peluruhan) dalam satuan waktu. Dalam sistem satuan SI, keaktifan dinyatakan
dalam Bq. Satu Bq sama dengan satu disintegrasi per sekon.
1Bq = 1 dps
dps = disintegrasi
per sekon
Satuan lain yang juga biasa
digunakan ialah Curie. Satu Ci ialah keaktifan yang setara dari 1 gram garam
radium, yaitu 3,7.1010 dps.
1Ci =
3,7.1010 dps = 3,7.1010 Bq
2.
Gray
(gy) dan Rad (Rd)
Gray dan Rad adalah satuan yang
digunakan untuk menyatakan keaktifan yakni jumlah (dosis) radiasi yang diserap
oleh suatu materi. Rad adalah singkatan dari 11 radiation absorbed dose. Dalam
sistem satuan SI, dosis dinyatakan dengan Gray (Gy). Satu Gray adalah absorbsi
1 joule per kilogram materi.
1 Gy = 1 J/kg. Satu rad adalah
absorbsi 10-3 joule energi/gram jaringan.
1 Rd = 10-3 J/g
1 Rd = 10-3 J/g
Hubungan grey dengan fad
1 Gy = 100 rd
Daya perusak dari
sinar-sinar radioaktif tidak saja bergantung pada dosis tetapi juga pada jenis
radiasi itu sendiri. Neutron, sebagai contoh, lebih berbahaya daripada sinar
beta dengan dosis dan intensitas yang sama. Rem adalah satuan dosis setelah
memperhitungkan pengaruh radiasi pada mahluk hidup (rem adalah singkatan dari
radiation equiwlen for man).
Thus radioactivity, a type
radiation brought about by atoms that experience radioactive decay was
discovered. The term was coined by polish-french physicist and chemist marie
curie (1867-1934), who with her husband pierre (1859-1906), a French
physicist, was responsible for the discovery of several radioactive elements.
(Jadi radioaktivitas, radiasi tipe yang dibawa oleh atom yang mengalami
peluruhan radioaktif ditemukan. Istilah ini diciptakan oleh Polandia-Perancis
fisikawan dan kimiawan marie curie (1867-1934 ¬), yang bersama suaminya pierre
(1859-1906), seorang fisikawan Perancis, bertanggung jawab untuk penemuan
beberapa elemen radioaktif)
B.
Reaksi Nuklir
Reaksi nuklir adalah
proses yang terjadi ketika inti atom kehilangan partikel subatom ke tingkat
yang sifat-sifatnya berubah. Atom asli dari unsur yang mengalami reaksi nuklir
dapat menjadi isotop yang berbeda, atau variasi, dari unsur yang sama atau
dapat menjadi unsur yang berbeda sama sekali. Reaksi nuklir yang erat kaitannya
dengan radiasi secara umum, yang dapat terjadi secara spontan di luar reaksi.
Radiasi hanya menggambarkan proses energi atau partikel yang dipancarkan dari
sebuah atom atau partikel lain. Reaksi nuklir Untuk jangka pendek, biasanya
khusus merujuk ke situasi di mana dua buah atom bertabrakan dan mengubah sifat
dari setidaknya satu dari inti atom.
Reaksi nuklir dapat
terjadi dalam berbagai bentuk, masing-masing memberikan hasil yang sangat
berbeda. Dalam reaksi fisi, partikel besar dan sering tidak stabil, baik secara
spontan maupun sebagai hasil dari tabrakan, terbagi terpisah menjadi dua
partikel yang berbeda. Hal sebaliknya terjadi pada reaksi nuklir fusi: dua
partikel yang lebih kecil bertabrakan dan inti mereka bergabung membentuk
partikel yang lebih besar. Reaksi fusi terjadi secara alami dalam bintang,
namun upaya yang paling manusia secara efektif dan efisien mengendalikan mereka
telah gagal. Dalam reaksi spallation, inti dipukul dengan momentum yang cukup
untuk mengeluarkan beberapa neutron atau proton, sehingga mengurangi berat atom
partikel.
Reaksi nuklir fisi
digunakan dalam reaktor nuklir untuk menghasilkan energi yang dapat digunakan.
Partikel yang tidak stabil bertabrakan dan terpecah, menghasilkan sejumlah
besar energi kinetik dan termal. Energi ini dapat dipanen oleh reaktor nuklir
dan digunakan untuk masalah manusia. Ada minat yang signifikan dalam penggunaan
reaksi fusi untuk menghasilkan tenaga, karena mereka cenderung untuk melepaskan
sejumlah besar energi. Sayangnya, reaksi fusi yang sangat sulit untuk
dikendalikan – mereka terjadi secara alami dalam tekanan tinggi, kondisi energi
tinggi hadir pada bintang, dan kondisi seperti itu sangat sulit untuk ditiru.
Ada beberapa jenis
partikel yang umumnya dipancarkan dari inti selama reaksi nuklir. Partikel
alpha pada dasarnya sama dengan inti atom helium dan terdiri dari dua neutron
dan dua proton terikat bersama. Partikel beta hanya elektron, mereka memiliki
massa jauh lebih kecil dan muatan negatif. Neutron juga dilepaskan dalam reaksi
nuklir, mereka sangat tajam karena mereka memiliki muatan netral sehingga ada
beberapa kekuatan yang mencegah mereka melewati berbagai zat, termasuk kulit
manusia. Sinar gamma adalah sinar yang meninggalkan inti dalam bentuk energi
murni, mereka juga sangat tajam dan dapat melewati hampir apa-apa karena massa
tidak ada dan muatan netrAL.
Perkembangan teknologi nuklir ternyata tidak hanya
dipengaruhi oleh reaksi neutron dengan bahan bakar nuklir pada reaktor tetapi
juga dipengaruhi oleh reaksi Masyarakat. Reaksi masyarakat, atau reaksi kontra
nuklir dan yang lebih keren lagi dinamakan dengan reaksi yang datang dari
Greenpeace Indonesia, yang mendesak pemerintah indonesia membatalkan rencana
pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Nuklir
berarti inti. Inti pusat sebuah atom yang mengandung sebagian besar massanya.
Inti ini bermuatan positif dan mengandung satu nukleon atau lebih (proton atau
neutron).Reaksi nuklir sendiri terbagi menjadi dua yaitu
a)
Fisi
nuklir yaitu reaksi nuklir yang melibatkan pembelahan sebuah inti berat
(seperti uranium) menjadi dua bagian (hasil fisi) yang kemudian memancarkan dua
atau tiga neutron, sambil melepaskan sejumlah energi yang setara dengan selisih
antara massa diam neutron dan hasil fisi dengan jumlah massa diam inti awal.
Fisi dapat terjadi spontan atau sebagai akibat irradiasi neutron.
b)
Fusi nuklir yaitu jenis reaksi nuklir yang
melibatkan penggabungan inti-inti atom dengan nomor atom kecil untuk membentuk
inti yang lebih berat dengan melepaskan sejumlah besar energi.
Gambar 2.2 : Fissi dan Fussi
walaupun fisi bersifat membagi
satu bagian utuh menjadi 2 bagian, dan fusi menggabungan 2 bagian menjadi satu
kesatuan, keduanya akan mampu menghasilkan energi yang dapat kita
manfaatkan dalam kehidupan
Nuclear fusion is the combining
of two smaller nuclei to produce a larger one, with the release of energy. (Fusi nuklir adalah kombinasi dari dua inti
yang lebih kecil untuk menghasilkan satu yang lebih besar, dengan pelepasan
energy)
Energi
nuklir yang dihasilkan dari reaksi fisi nuklir sebuah atom uranium menghasilkan
sekitar 3,2 x 10-11 joule, sementara pembakaran satu atom karbon menghasilkan
sekitar 6,4 x 10-19 joule. Untuk jumlah massa yang sama, uranium menghasilkan
2.500.000 kali lebih banyak energi dengan proses fisi daripada pembakaran
karbon. Fusi nuklir deuterium (D atau 2H atau air berat) untuk menghasilkan
helium melepaskan energi kira-kira 400 kali jumlah energi yang dibebaskan pada
fisi uranium (untuk jumlah yang sama).
Bahan
bakar nuklir akan menyebabkan suatu reaksi berantai berlangsung sendiri,
sehingga bahan ini dapat digunakan sebagai sumber energi nuklir. Bahan bakar
nuklir terbagi menjadi material fisil dan material fertil. Material fisil
adalah nuklida suatu unsur yang mengalami pembelahan inti secara spontan atau
bila diirradiasi dengan neutron. Nuklida terfisikan, seperti uranium-235 dan
plutonium-239. Sedangkan material fertil disebut juga material subur merupakan
nuklida yang dapat menyerap sebuah neutron untuk membentuk bahan fisil.
Misalnya, uranium-238 menyerap sebuah neutron untuk membentuk uranium-239. Inti
paling berat yang ada di alam adalah uranium-238, terdiri dari 92 proton dan
146 neutron. Lambang yang digunakan untuk nuklida ini adalah (_92^238)U, angka
disebelah atas merupakan nomor nukleon dan angka disebelah bawah merupakan
nomor atom. Pada semua inti, nomor nukleon (A) sama dengan jumlah nomor atom
(Z) dan nomor neutron (N), dengan kata lain A = Z+N.
Reaktor
nuklir merupakan peralatan tempat berlangsungnya reaksi berantai fisi nuklir
terkendali untuk menghasilkan energi nuklir, radioisotop atau nuklida baru.
Reaktor fisi berdasarkan perbedaan spektrum energi neutron dapat dibedakan atas
reaktor cepat dan reaktor termal. Pada reaktor termal, neutron diperlambat oleh
tumbukan dengan atom moderator yang ringan (seperti grafit, deuterium, atau
beryllium). Neutron bersama atom ini akan berada dalam kesetimbangan termal
dengan bahan sekitar dan disebut sebagai neutron termal. Contoh jenis reaktor
ini: reaktor air didih (boiling-water reactor (BWR)) dan reaktor air tekan
(presurized-water reactor (PWR)). Pada reaktor cepat yang tidak memiliki
moderator, temperaturnya lebih tinggi dan digunakan bahan pendingin logam cair,
biasanya natrium cair. Beberapa reaktor cepat digunakan sebagai konverter atau
pembiak. Reaktor konverter ialah reaktor yang mengubah bahan fertil menjadi
bahan fisil. Reaktor pembiak menghasilkan bahan fisil yang sama dengan yang
digunakannya. Misalnya reaktor pembiak cepat (Fast breeder reactor(FBR))
menggunakan uranium yang diperkaya dengan 239Pu sebagai bahan bakar akan
menghasilkan 239Pu yang lebih banyak daripada digunakan untuk mengubah 238U
menjadi 239Pu.
Reaktor
riset, reaktor daya dan bom nuklir dibedakan dari faktor multiplikasi (k)
reaktor yaitu parameter penting untuk menunjukkan generasi neutron pada setiap
proses fisi. Reaktor riset (k kecil dari 1) artinya terlalu sedikit neutron
untuk memulai fisi baru, maka reaksi akan diperlambat dan kemudian berhenti (sub-kritis).
Reaktor daya (k sama dengan 1), bila tepat sebuah neutron per fisi menimbulkan
fisi lain, sehingga energi terlepas dengan laju konstan (kritis). Bom nuklir (k
besar dari 1), frekuensi fisi bertambah setiap saat sehingga energi yang
terlepas bertambah dengan cepat dan bila kondisi ini berlangsung terus dapat
memicu ledakan (super kritis).
Fission vs. fusion.
In nuclear fission, or the splitting of atoms, uranium isotop (or other
radioactive isotopes) are bombarded with neutrons, splitting the uranium
nucleus in half and releasing huge amounts
of energy. As the nucleus is halved, it emits several extra neutrons,
which spin off and split more uranium nuclei, creating still more energy and
setting off a chain reaction. This explains the destructive power in an atomic
bomb, as well as the constructive power-providing energy to homes and
businesses-in a nuclear power plant. Whereas the chain reaction in an atomic
bomb becomes an uncontrolled explosion, in a nuclear plant the reaction is
slowed and controlled. (Fisi vs fusion. Pada fisi nuklir, atau pemisahan atom,
isotop uranium (atau isotop radioaktif lainnya) dibombardir dengan neutron,
membelah inti uranium menjadi dua dan melepaskan sejumlah besar energi. Sebagai
inti dibelah dua, memancarkan beberapa neutron tambahan, yang spin off dan
membagi lebih banyak inti uranium, menciptakan masih lebih banyak energi dan
berangkat reaksi berantai. Hal ini menjelaskan kekuatan destruktif dalam sebuah
bom atom, serta konstruktif daya menyediakan energi untuk rumah dan bisnis-di
pembangkit listrik tenaga nuklir. Sedangkan reaksi berantai dalam sebuah bom
atom menjadi sebuah ledakan tak terkendali, di sebuah pabrik nuklir reaksi
diperlambat dan dikendalikan.)
C. Peluruhan
Peluruhan
radioaktif
adalah kumpulan beragam proses di mana sebuah inti atom yang tidak stabil
memancarkan partikel subatomik (partikel radiasi). Peluruhan terjadi pada
sebuah nukleus induk dan menghasilkan sebuah nukleus anak. Ini
adalah sebuah proses acak sehingga sulit untuk memprediksi peluruhan sebuah
atom.
Radioactive decay is the
continuous disintegration of the nuclei of unstable elements. (Peluruhan
radioaktif adalah disintegrasi terus menerus dari inti elemen tidak stabil)
Satuan
internasional (SI) untuk pengukuran peluruhan radioaktif adalah becquerel (Bq).
Jika sebuah material radioaktif menghasilkan 1 buah kejadian peluruhan tiap 1
detik, maka dikatakan material tersebut mempunyai aktivitas 1 Bq. Karena
biasanya sebuah sampel material radiaktif mengandung banyak atom,1 becquerel
akan tampak sebagai tingkat aktivitas yang rendah; satuan yang biasa digunakan
adalah dalam orde gigabecquerels.
Inti
yang tidak stabil akan mengalami peluruhan yaitu proses perubahan dari inti
yang tidak stabil menjadi inti yang lebih stabil.
Jenis
radiasi yang dipancarkan dari peluruhan zat radioaktif dapat dilihat dalam
tabel berikut.
Tabel
Sifat radiasi dan partikel dasar penyusun inti
Partikel Dasar
|
Massa Relatif
|
Muatan
|
Simbol
|
Jenis
|
Alfa
|
4
|
+2
|
α ,
|
Partikel
|
Beta
|
0
|
-1
|
β- ,
|
Partikel
|
Positron
|
0
|
+1
|
β+ ,
|
Partikel
|
Gamma
|
0
|
0
|
Gelombang electromagnet
|
|
Proton
|
1
|
+1
|
,
|
Partikel
|
Neutron
|
1
|
0
|
Partikel
|
Sumber: General Chemistry, Petrucci R. H, 2007
Inti
atom yang tidak stabil akan mengalami peluruhan menjadi inti yang lebih stabil
dengan cara:
a)
Inti yang terletak di atas pita
kestabilan n/p > 1 (kelebihan neutron) stabil dengan cara:
·Pemancaran sinar beta (elektron).
Pada proses ini terjadi perubahan neutron menjadi proton.
·Memancarkan neutron. Proses ini
jarang terjadi di alam, hanya beberapa inti radioaktif yang mengalami proses
ini.
b)
Inti yang terletak di bawah pita
kestabilan n/p < 1 (kelebihan proton), stabil dengan cara:
·Memancarkan positron. Pada proses
ini terjadi perubahan proton menjadi netron.
·Memancarkan proton (proses ini
jarang terjadi
·Menangkap elektron. Elektron
terdekat dengan inti (elektron di kulit K) ditangkap oleh inti atom sehingga
terjadi perubahan
c) Inti
yang terletak di seberang pita kestabilan (Z > 83) stabil dengan mengurangi
massanya dengan cara memancarkan sinar α.(Pettruci, 2007; 227)
Masing-masing inti radioaktif
meluruh dengan laju yang berbeda, masing-masing mempunyai konstanta peluruhan
sendiri (λ). Tanda negatif pada persamaan menunjukkan bahwa jumlah N berkurang
seiring dengan peluruhan.
Inti-inti yang tidak
stabil akan meluruh (bertransformasi) menuju konfigurasi yang baru yang mantap
(stabil). Dalam proses peluruhan akan terpancar sinar alfa, sinar beta, atau
sinar gamma dan energy peluruhan. Jika inti radioaktif meluruh, akan menjadi
inti baru yang beda sifat kimianya.
Jenis radiasi yang
dipancarkan radioaktif adalah:
1. Peluruhan Alpha
(Alpha Decay)
Inti-inti radioaktif
secara spontan menjadi inti turunan yang kadang-kadang memancarkan partikel α.
Pada umumnya diikuti pula dengan peluruhan radiasi gamma. Radiasi alpha
mempunyai spektrum energi yang diskrit. Radioisotop yang memancarkan radiasi
alpha maka nomor massa akan berkurang 4 dan nomor atomnya berkurang 2, sehingga
radiasi alpha disamakan dengan pembentukan inti Helium yang bermuatan +2 (
).

Berdasarkan hukum
kekekalan jumlah muatan dan nucleon maka peluruhan partikel α memenuhi hubungan
yang dapat dinyatakan sebagai berikut:

X adalah unsur induk dan
Y adalah unsur turunan.
Contoh peluruhan α terjadi pada peluruhan Plutonium:
Contoh peluruhan α terjadi pada peluruhan Plutonium:

Energi yang dilepaskan
pada saat peluruhan, disebut energi disintegrasi atau energi peluruhan yaitu:
Q = (mx-mY-mα)c2
Fraksi Energi Peluruhan

KY = energi kinetik
inti
(inti anak)

Kα = energi kinetik
partikel α
Pada gambar dibawah ini
merupakan gambar spektrum energi peluruhan alpha yang berbentuk diskrit.

Gambar 2.3. Spektrum
energi peluruhan alfa
2. Peluruhan Beta Minus (Beta Minus Decay)
Peluruhan beta (β)
adalah suatu proses peluruhan radioaktif dengan muatan inti berubah tetapi
jumlah nukleonnya tetap. Radiasi beta minus disamakan dengan pemancaran
elektron dari suatu inti atom. Bentuk peluruhan ini terjadi pada inti yang
kelebihan neutron dan pada umumnya disertai juga dengan radiasi gamma. Radiasi
beta (baik yang positif maupun yang negatif) mempunyai spektrum energi yang
sinambung (continous) serta diikuti oleh antineutrino yang membawa kelebihan
energi yang dimiliki oleh zarah beta. Seperti halnya pada radiasi Alpha, makin
tinggi energi yang dimiliki maka makin pendek umurnya. Pada radiasi Beta minus,
nomor atomnya akan bertambah satu, sedang nomor massanya tetap. Reaksi secara
umum dapat ditulis sebagai:

Contoh reaksi peluruhan
radiasi Beta minus adalah:

⊽ disebut antineutrino yang merupakan partikel netral dengan
kelajuan c dan tidak mempunyai massa. Energi dari antineutrino bersifat
kinetic. Energi yang dilepas pada saat peluruhan yaitu:
Q = (mx-mY)c2
Pada gambar 2.8.
merupakan gambar spektrum energi peluruhan beta yang berbentuk spectrum
kontinu.

Gambar 2.4. Spektrum
energi peluruhan beta
(http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu, 2010)
(http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu, 2010)
3. Peluruhan Beta Plus
(Beta Plus Decay)
Radiasi ini sama dengan
pancaran positron dari inti. Bentuk peluruhan ini terjadi pada inti yang
kelebihan proton. Pancaran positron dapat terjadi apabila perbedaan energi
antara inti semula dengan inti hasil paling tidak sebesar 1,02 MeV.
Menurut Pauli, radiasi
beta plus sama dengan perubahan proton menjadi neutron sehingga nomor atomnya
akan berkurang satu. Reaksi secara umum dapat ditulis sebagai berikut:

v adalah neutrino yaitu
partikel sejenis dengan antineutrino dengan spin yang berlawanan. Contoh
peluruhan beta plus adalah sebagai berikut:

Energi disintegrasi atau energi peluruhannya yaitu:
Q = (mx –
mY + 2me)c2
Pada radiasi Beta plus
akan selalu diikuti dengan peristiwa Annihilasi, karena begitu terbentuk zarah
beta plus maka akan langsung bergabung dengan elektron dan menghasilkan radiasi
Gamma:

4. Tangkapan Elektron Orbital (K
Capture)
Pada peluruhan ini
inti akan menangkap satu elektron orbital. Peristiwa ini terjadi pada inti yang
kelebihan proton tetapi tidak mempunyai cukup tenaga untuk mengeluarkan proton
dari intinya. Secara umum dapat dituliskan sebagai berikut:

Sebagai contoh pada
peristiwa peluruhan unsur Bi

Energi disintegrasi atau energi peluruhannya adalah sebagai
berikut:
Q = (mx -
mY)c2
5. Peluruhan
Gamma (Gamma Decay)
Suatu inti unsur
radioaktif yang mengalami peluruhan, baik peluruhan α maupun peluruhan β atau
mengalami tumbukan dengan netron biasanya berada pada keadaan tereksitasi. Pada
saat kembali ke keadaan dasarnya inti tersebut akan melepas energi dalam bentuk
radiasi gamma.
Radiasi gamma mempunyai
energi yang diskrit. Gambar 2.9. menunjukkan salah satu contoh energi gamma
dari atom cesium 137 (137Cs).

Gambar 2.5. Spektrum
energi peluruhan gamma atom cesium 137 (Rapach, 2010)
Radiasi gamma mempunyai
energi yang diskrit. Energi sinar gamma (γ) akan berkurang atau terserap oleh
suatu material yang dilewatinya. Karena ada penyerapan energi olah bahan maka intensitas
dari sinar gamma akan berkurang setelah melewati material tersebut.
I = Io.e-μx
I
: intensitas sinar gamma yang berhasil melewati material
Io : intensitas mula-mula
x : tebal material
μ : koefisien atenuasi linier atau koefisien pembanding yang besarnya tergantung sifat material penyerap dan energi sinar gamma.
Io : intensitas mula-mula
x : tebal material
μ : koefisien atenuasi linier atau koefisien pembanding yang besarnya tergantung sifat material penyerap dan energi sinar gamma.
Jika tebal material penyerap L, maka:

Jika intensitas I yaitu
intensitas sinar gamma yang berhasil melewati material tinggal separoh dari
intensitas awal, maka tebal material tersebut dinamakan Lapisan Harga Paroh
(Half Value Layer = hvl).

D. Reaksi Inti
Unsur
radioaktif, inti-intinya meluruh menjadi inti yang lain yang lebih stabil. Pada
peristiwa peluruhan radioaktif inti-inti berubah dengan sendirinya tanpa
dipengaruhi atau berlangsung secara alami. Tetapi sebenarnya perubahan
inti-inti radioaktif juga dapat dilakukan dengan cara menembakkan
partikel-pertikel yang mempunyai energi cukup sehingga berlangsung reaksi pada
unsur yang ditembaki. Reaksi yang terjadi dinamakan reaksi nuklir. Jadi reaksi
inti atau reaksi nuklir adalah proses yang terjadi apabila
partikel-pertikel nuklir (nukleon atau inti atom) saling mengadakan kontak.
Reaksi
inti ditulis sebagai berikut:
atau disingkat : 


X
adalah inti awal, Y inti akhir, sedang a dan b masing-masing adalah partikel
datang dan yang dipancarkan.
Apabila
suatu partikel α ditembakkan pada inti X, maka ada beberapa kemungkinan yang
terjadi, yakni hamburan elastik, hamburan inelastik dan reaksi inti.
Para
ahli banyak menggunakan reaksi inti ini untuk tujuan analisis kualitatif dan
kuantitatif dalam suatu penelitian, misalnya AAN (Aktivasi Neutron).
Dalam
reaksi inti berlaku beberapa hukum kekekalan, antara lain:
1.
Hukum kekekalam muatan
∑Z = tetap
2.
Hukum kekekalan massa dan energi
MA.C2
+ ma.C2 + Ka = MB.C2 + Mb.C2
+ Kb + Kb
MA.C2 + ma.C2 = MB.C2 + Mb.C2 + Q
Dimana Q = energi reaksi
= KB + Kb – Ka
(Energi kinetik)
Bila Q > 0 reaksi ekso energi
Q < 0 reaksi endo energy
MA.C2 + ma.C2 = MB.C2 + Mb.C2 + Q
Dimana Q = energi reaksi
= KB + Kb – Ka
(Energi kinetik)
Bila Q > 0 reaksi ekso energi
Q < 0 reaksi endo energy
3.
Hukum kekekalan nomor massa
∑A = tetap
4.
Hukum kekekalan momentum sudut inti
∑I = tetap
5.
Hukum kekekalan paritas
∑∏ = tetap
6.
Hukum kekekalan momentum linier
∑P = tetap
Partikel
yang digunakan untuk menembaki inti-inti radioaktif agar terjadi reaksi nuklir
adalah partikel α, partikel β, sinar γ, netron, proton dan deuteron. Pada
peristiwa reaksi nuklir, inti yang ditembaki akan berubah menjadi inti yang
lain disertai pelepasan partikel lain dan energi. Besarnya energi yang
terbentuk pada peristiwa reaksi sama dengan selisih massa mula-mula dengan
massa akhir.
Reaksi
inti dapat digolongkan dengan beberapa cara, tergantung pada keadaan yaitu
sebagai berikut:
1.
Klasifikasi reaksi inti menurut partikel penembak
Menurut
klasifikasi ini dapat digolongkan dalam beberapa golongan, yakni:
a.
Reaksi partikel bermuatan
Termasuk
reaksi ini adalah reaksi p, d, α, C12, O16.
b.
Reaksi netron
Partikel
yang ditembakkan adalah netron
c.
Reaksi foto nuklir
Partikel
yang ditembakkan adalah foton (sinar gamma)
d.
Reaksi elektron
Partikel
yang ditembakkan adalah elektron
2.
Klasifikasi reaksi inti menurut energi partikel penembak
a.
Untuk reaksi netron,
energi netron penembak dapat digolongkan dalam empat golongan, yaitu:
Netron
termik dengan energi datang ~ 1/40 eV
Netron epitermik dengan energi datang ~ 1 eV
Netron datang dengan energi datang ~ 1 keV
Netron cepat dengan energi datang 0,1 – 10 MeV
Netron epitermik dengan energi datang ~ 1 eV
Netron datang dengan energi datang ~ 1 keV
Netron cepat dengan energi datang 0,1 – 10 MeV
b.
Untuk reaksi partikel bermuatan,
partikel penembak digolongkan sebagai berikut:
Partikel
berenergi rendah : 0,1 – 10 MeV
Partikel berenergi tinggi : 10 – 100 MeV
Partikel berenergi tinggi : 10 – 100 MeV
3.
Reaksi Fisi
Reaksi
fisi (reaksi pembelahan) yaitu reaksi yang terjadi pada inti berat dan akan
meluruh atau pecah menjadi inti-inti ringan secara berantai. Pada reaksi
tersebut, inti atom menangkap netron dan menghasilkan keadaan inti yang sangat
labil dan dalam waktu yang singkat inti tersebut akan membelah menjadi belahan
inti utama disertai munculnya dua atau tiga netron-netron baru.
Ukuran
dari kedua pecahan hasil reaksi tidak tetap, dengan kemungkinan terbesar
pecahan yang satu memiliki nomor massa sekitar 90 dan yang lain sekitar 140.
Energi yang dibebaskan dalam fisi, sebagian besar akan berubah menjadi energi
kinetik dari kedua pecahan itu yaitu sekitar 80 persen, sedangkan yang 20
persen muncul dalam bentuk peluruhan (beta dan gamma) serta energi kinetik
sejumlah netron yang terpancar pada proses fisi. Sebagai contoh pada peluruhan
Uranium
yang sering terjadi adalah:


Salah
satu contoh peluruhan Uranium
yang ditampilkan dalam bentuk gambar.


Gambar 2.6. Salah satu contoh reaksi
fisi peluruhan Uranium 

Pada
reaksi dengan penembakan neutron termal pada inti uranium (inti fisil) akan
menghasilkan inti baru dan disertai lepasnya dua neutron yang jika sudah
diperlambat dalam moderator dapat menyebabkan terjadi reaksi berikutnya,
sehingga terjadilah reaksi berantai, seperti gambar dibawah ini.

Gambar 2.7. Reaksi berantai Uranium
235
Pada
gambar 14 menjelaskan bahawa sebuah neutron yang bergerak lambat memicu fisi
atau pembelahan sebuah inti uranium-235 dan beberapa neutron dipancarkan. Dalam
uranium yang telah diperkaya agar mengandung uranium-235 dengan perbandingan
yang tinggi, neutron-neutron ini segera menghantam inti-inti uranium-235
lainnya dan mengulangi proses tersebut. Terjadilah proses fisi secara terus
menerus, dengan melepaskan energi dalam jumlah yang besar.

Energi
total setiap kali fisi untuk satu neutron menembak satu kali adalah sekitar 200
MeV.
Jika
suatu reaksi menghasilkan energi Q>0, reaksi tersebut dinamakan reaksi
Eksotermik atau Eksoergik, sedangkan jika Q<0, maka diperlukan energi selama
reaksi dan reaksinya dinamakan reaksi Endotermik atau Endoergik (Soetjipto, 1996:143).
Q
adalah energi reaksi yang dihasilkan yang didefinisikan sebagai energi total
yang dipancarkan selama reaksi berlangsung yaitu sama dengan selisih energi
kinetik sebelum reaksi dan energi kinetik sesudah reaksi atau selisih massa
sebelum reaksi dan sesudah reaksi dikalikan c2.
Sebagai
contoh misalnya pada reaksi berikut:
A
+ B --> C + D
A
adalah partikel penembak
B
adalah partikel sasaran
C
dan D adalah partikel baru hasil reaksi, maka
Pada reaksi inti yang digunakan partikel penembak, maka energi
partikel penembak harus cukup besar agar reaksi dapat terjadi. Besarnya energi
kinetik minimum dari partikel penembak agar terjadi reaksi dinamakan Energi
Ambang.
4.
Reaksi Fusi
Reaksi
fusi (penggabungan atau peleburan) yaitu reaksi antara inti-inti ringan
disertai dengan pelepasan energi, misalnya penggabungan proton menjadi detron.
Reaksi fusi adalah reaksi yang belum bisa dibuat karena diperlukan wadah yang
tahan terhadap suhu mencapai ~107 oK. Pada suhu tersebut
atom-atom akan terionisasi membentuk keadaan yang dinamakan plasma. Sebenarnya
reaksi fusi merupakan sumber energi karena pada reaksi tersebut dihasilkan
energi yang besar sekali. Seperti reaksi yang terjadi pada matahari dan
bintang-bintang.
Energi
yang dihasilkan terbentuk melalui dua jenis reaksi, yaitu melalui daur
proton-proton dan daur carbon yang masing-masing menghasilkan energi sekitar 25
MeV dan 28 MeV.
a.
Daur proton-proton

Gambar 2.8. Reaksi daur proton

b.
Daur Carbon

Gambar
2.9. Reaksi daur carbon

BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat di ambil
dari makalah ni adalah sebagai berikut :
1.
Radioaktivitas
adalah sifat suatu unsur yang dapat memancarkan radiasi (pancaran sinar) secara
spontan. Tergolong ke dalam zat radioaktif, unsur tersebut biasanya bersifat
labil, berarti tergolong zat radioaktif adalah isotopnya, karena untuk mencapai
kestabilan salah satunya harus melakukan peluruhan. Peluruhan zat radioaktif
untuk menghasilkan unsur yang lebih stabil sambil memancarkan partikel seperti,
partikel alpha α (sama dengan inti 4He), partikel beta (β), dan
partikel gamma (γ).
2.
Reaksi nuklir adalah proses yang
terjadi ketika inti atom kehilangan partikel subatom ke tingkat yang
sifat-sifatnya berubah.
3.
Peluruhan
radioaktif
adalah kumpulan beragam proses di mana sebuah inti atom yang tidak stabil
memancarkan partikel subatomik (partikel radiasi).
4.
reaksi inti adalah
proses yang terjadi apabila partikel-pertikel nuklir (nukleon atau inti atom)
saling mengadakan kontak.
B.
Saran
Kritik dan Saran yang bersifat membangun
selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah. Bagi para pembaca yang ingin
mengetahui lebih jauh mengenai radioaktif dan reaksi inti, penulis mengharapkan
agar para pembaca membaca buku-buku lainnya yang berkaitan dengan judul –judul
tersebut
DAFTAR
PUSTAKA
Nowikow,igor dan brian hembecker. Physics concepts and connections.canada;Irwin publishing,2001
Nowikow,igor, brian hembecker.dkk. Physics concepts and connections .book II. canada;Irwin publishing,2002
Schlager, Neil.science
of everyday things. Volume II;amerika; gale group,2001
( Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Peluruhan_radioaktif )